Nama:
Intan Yuliawati
Kelas:
2PA07
NPM:
15514389
Mata Kuliah: Kesehatan
Mental #
PENDAHULUAN
Perilaku
abnormal adalah bagian dari kenyataan yang kita hadapi dalam kehidupan ini.
Baik disadari ataupun tidak, perilaku abnormal banyak terjadi di sekitar kita.
Ia dapat berbentuk perilaku-perilaku yang jarang dilakukan, tidak sesuai dengan
norma, menyebabkan stress pribadi, tidak diharapkan dan disfungsi perilaku.
Sayangnya, masyarakat masih kurang memahami perilaku abnormal tersebut,
sehingga perilaku-perilaku abnormal yang ada sering dipahami secara keliru.
Tidak mudah merumuskan apa yang
dimaksut dengan normal dan abnormal tentang perilaku, karena dalam banyak kasus
tidak ada batas yang tegas antara perilaku normal dan abnormal. Dalam arti,
orang yang secara umum dipandang normal pun suatu saat dapat melakukan
perbuatan yang tergolong abnormal, mungkin diluar kesadarannya. Sebaliknya,
tidak jarang orang yang secara umum jelas-jelas abnormal melakukan perbuatan
atau mengucapkan kata-kata yang sungguh-sungguh normal.
Secara
konseptual, keadaan normal-sehat dapat dirumuskan sebagai berikut (dalam
Winkel, 1991, h. 674-675):
1.
WHO mengatakan bahwa
sehat itu adalah suatu keadaan berupa kesejahteraan fisik, mental, dan sosial
secara penuh dan bukan semata-mata berupa absennya penyakit atau keadaan lemah
tertentu.
2.
Karl Manninger
(psikiater) mengatakan kesehatan mental adalah penyesuaian manusia terhadap
dunia dan satu sama lain dengan keefektifan dan kebahagiaan yang maksimum.
3.
H.B English (psikolog)
kesehatan mental adalah keadaan yang relatif tetap dimana sang pribadi
menunjukan penyesuaian atau mengalami aktualisasi diri atau realisasi diri, ini
merupakan keadaan positif.
4.
W.W. Boehm (pekerja
sosial) kesehatan mental meliputi suatu keadaan dan taraf keterlibatan sosial
yang diterima oleh orang lain dan memberikan kepuasan bagi orang yang
bersangkutan.
Beberapa rumusan diatas menekankan normalitas
sebagai keadaan sehat, yang secara umum ditandai dengan keefektifitan dalam
menyesuaikan diri, yakni menjalankan tuntutan hidup sehari-hari, sehingga
menimbulkan perasaan puas dan bahagia.
TEORI
Dalam perilaku, normal adalah istilah
yang dikenal untuk setiap makhluk hidup bahwa tidak ada perbedaan signifikan
dengan kelompoknya, meskipun dalam derajat yang bervariasi, setiap hidup yang
memiliki perbedaan apapun biasanya tidak diperhitungkan, dimana penggunaan kata
yang normal hanya bisa subjektif.
Menurut
Maramis (1999), normal adalah keadaan sehat dalam hal fungsi keseluruhan.
Sedangkan abnormal adalah menyimpang dari yang normal.
Perilaku normal adalah perilaku yang
serasi dan tepat yang dapat diterima oleh masyarakat pada umumnya. Perilaku
abnormal adalah suatu perilaku yang berbeda, tidak mengikuti peraturan yang
berlaku, tidak pantas, mengganggu dan tidak dapat dimengerti melalui kriteria
yang biasa.
Pendekatan
normal dan abnormal menurut Profesor Suprapti Sumarno (1976):
a)
Pendekatan
Kuantitatif, didasarkan atas patokan statistik dengan
melihat pada sering atau tidaknya sesuatu terjadi dan berdasarkan perhitungan
maupun pikiran awam.
b)
Pendekatan
Kualitatif, didasarkan pada obsevasi empirik pada
tipe-tipe ideal dan terikat pada faktor sosial kultural setempat.
Kriteria Abnormalitas
1.
Penyimpangan
dari norma-norma statistik
Menurut patokan ini, yang disebut
abnorml adalah setiap hal yang luar biasa, tidak lazim, atau secara harfiah
yang menyimpang dari norma. Kriteria ini cocok diterapkan untuk sifat-sifat
kepribadian tertentu seperti sifat agresif, sebaliknya kriteria ini tidak cocok
untuk sifat-sifat kepribadian lain, seperti intelegensi.
2.
Penyimpangan
dari norma-norma sosial
Menurut kriteria ini, abnormal
diartikan sebagai nonkonformitas, yaitu sifat tidak patuh atau tidak sejalan
dengan norma sosial.inilah yang disebut relativisme budaya: apa saja yang umum
atau lazim adalah normal.
3.
Gejala
“Salah Suau” (Maladjustment)
Abnormalitas dipandang sebagai
ketidakefektifan individu dalam menghadapi, menanggapi atau melaksanakan tuntutan-tuntutan
dari lingkungan fisik dan sosialnya maupun yang bersumber dari berbagai
kebutuhannya sendiri. Kriteria ini dapat bersifat negatif, dalam arti tidak
memperhitungkan fakta bahwa seorang individu dapat berpenyesuaian baik
(well-adjusted) tanpa memanfaatkan dan memperkembangkan kemampuan-kemampuannya.
4.
Tekanan
Batin
Abnormalitas dipandang berwujud
perasaan-perasaan cemas, depresi, atau sedih, atau rasa bersalah yang mendalam.
Namun, ini bukan patokan yang baik untuk membedakan perilaku normal dari yang
abnormal atau sebaliknya.
5.
Ketidakmatangan
Seseorang disebut abnormal bila
perilakunya tidak sesuai dengan tingkat usianya, tidak selaras dengan
situasinya.
Coleman, Butcher dan Carson (1980)
dengan tetap menyadari kekurangannya, akhirnya hanya menggunakan dua kriteria,
yaitu abnormalitas sebagai penyimpangan dari norma-norma masyarakat dan
abnormalitas dalam arti apa saja yang bersifat maladaptif.
Istilah
tentang Perilaku Abnormal
Menurut
Coleman, Butcher & Carson (1980):
a)
Perilaku
Abnormal
Istilah
ini memiliki arti yang bermacam-macam. Terkadang dipakai untuk menunjuk aspek
batiniah kepribadian, aspek yang dapat langsung diamati, perilaku spesifik
tertentu seperti fobia atau skizofrenia.
b)
Perilaku
Maladaptif
Istilah
ini memiliki arti luas meliputi setiap perilaku yang mempunyai dampak merugikan
bagi individu atau masyarakat, tidak hanya mencakup gangguan seperti neurosis
dan psikosis yang bermacam-macam jenisnya, melainkan juga berbagai bentuk
perilaku baik perorangan maupun kelompok.
c)
Gangguan
Mental
Istilah
ini menunjuk pada semua bentuk perilaku abnormal, mulai dari yang ringan sampai
yang melumpuhkan.
d)
Psikopatologi
Istilah
ini sebenarnya berarti kajian tentang perilaku abnormal atau gangguan mental,
namun sering juga dipakai sebagai istilah lain bagi kedua istilah tersebut.
e)
Penyakit
Jiwa
Dulu
istilah ini diartikan sama dengan gangguan mental. Kini dipersempit hanya
mencakup gangguan-gangguan yang melibatkan patologi otak atau berupa
disorganisasi kepribadian yang parah.
f)
Gangguan
Perilaku
Istilah
ini menunjuk gangguan-gangguan yang disebabkan oleh proses belajar yang tidak
semestinya.
g)
Penyakit
Mental
Dulu
istilah ini menunjuk gangguan-gangguan yang berkaitan dengan patologi otak.
Kini, jarang dipakai.
h)
Ketidakwarasan
Istilah
ini menunjuk pada gangguan mental yang serius.
ANALISIS
Contoh Kasus:
Landa berusia 25 tahun telah menjalani
hubungan perkawinan selama hampir 2 tahun. Landa selalu merasa ketakutan dan
kekhawatiran yang mendalam bila bersama suaminya. Hal ini tidak terlalu
dirasakannya ketika ia bersama orang lain. Suami subjek merupakan figur suami
yang otoriter dan overprotektif. Subjek selalu merasa disalahkan atas setiap
hal yang dilakukannya. Subjek merasa tidak berani memberikan pendapat kepada
suaminya. Subjek merasa tidak bahagia dengan kehidupan perkawinannya tersebut
dan berniat untuk segera bercerai dengannya tetapi subjek tidak mempunyai
keberanian untuk melakukannya.
Pembahasan:
Dari contoh kasus diatas kita dapat
mengidentifikasikan bahwa Landa termasuk dalam perilaku abnormal, sebab Landa
selalu merasa ketakutan dan kekhawatiran yang berlebihan atau mendalam terhadap
suaminya, tetapi tidak terlalu dirasakannya dengan orang lain. Dalam hal ini
permasalahan yang dihadapi oleh Landa masuk pada kriteria abnormalitas yaitu
tekanan batin yang telah dipaparkan sebelumnya. Subjek merasa tertekan dengan
suami yang mempunyai sikap otoriter dan overprotektif, sehingga membuat subjek
tidak berani untuk mengungkapkan pendapatnya, subjek selalu merasa apa yang ia
lakukan selalu salah. Hal ini jelas tidak tepat, karena seharusnya subjek harus
berani untuk memberikan pendapat terlebih pada suaminya sendiri karena pada
dasarnya setiap pendapat yang kita sampaikan tidak ada yang salah. Selain itu
kriteria yang berikutnya yaitu Gejala “salah suai” (maladjusment) yang
disebabkan oleh ketidakefektifan individu dalam menghadapi, menangani atau
melaksanakan tuntutan dari lingkungan fisik. Ketidakefektifan individu dalam
menghadapi dan menangani suaminya yang bersikap otoriter dan overprotektif.
Sehingga subjek merasa tidak bahagia dalam kehidupan perkawinannya dan berniat
untuk segera bercerai. Dalam hal ini, seharusnya subjek dapat lebih
menyesuaikan diri dengan sikap suaminya yang otoriter dan overprotektif karena
sebelum menikah subjek seharusnya dapat melihat atau mengetahui mengenai sikap
suaminya walaupun tidak banyak dan subjek tau apa yang akan dilakukannya
setelah menikah dengan sikap suaminya tersebut, sehingga dapat menghadapi
ataupun menangani masalah yang terjadi dalam perkawinannya.
DAFTAR
PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar