Kamis, 17 Maret 2016

Konsep Normal-Abnormal dalam Masyarakat


Nama: Intan Yuliawati
Kelas: 2PA07
NPM: 15514389
Mata Kuliah: Kesehatan Mental #


PENDAHULUAN

        Perilaku abnormal adalah bagian dari kenyataan yang kita hadapi dalam kehidupan ini. Baik disadari ataupun tidak, perilaku abnormal banyak terjadi di sekitar kita. Ia dapat berbentuk perilaku-perilaku yang jarang dilakukan, tidak sesuai dengan norma, menyebabkan stress pribadi, tidak diharapkan dan disfungsi perilaku. Sayangnya, masyarakat masih kurang memahami perilaku abnormal tersebut, sehingga perilaku-perilaku abnormal yang ada sering dipahami secara keliru.
          Tidak mudah merumuskan apa yang dimaksut dengan normal dan abnormal tentang perilaku, karena dalam banyak kasus tidak ada batas yang tegas antara perilaku normal dan abnormal. Dalam arti, orang yang secara umum dipandang normal pun suatu saat dapat melakukan perbuatan yang tergolong abnormal, mungkin diluar kesadarannya. Sebaliknya, tidak jarang orang yang secara umum jelas-jelas abnormal melakukan perbuatan atau mengucapkan kata-kata yang sungguh-sungguh normal.
Secara konseptual, keadaan normal-sehat dapat dirumuskan sebagai berikut (dalam Winkel, 1991, h. 674-675):
1.     WHO mengatakan bahwa sehat itu adalah suatu keadaan berupa kesejahteraan fisik, mental, dan sosial secara penuh dan bukan semata-mata berupa absennya penyakit atau keadaan lemah tertentu.
2.     Karl Manninger (psikiater) mengatakan kesehatan mental adalah penyesuaian manusia terhadap dunia dan satu sama lain dengan keefektifan dan kebahagiaan yang maksimum.
3.     H.B English (psikolog) kesehatan mental adalah keadaan yang relatif tetap dimana sang pribadi menunjukan penyesuaian atau mengalami aktualisasi diri atau realisasi diri, ini merupakan keadaan positif.
4.     W.W. Boehm (pekerja sosial) kesehatan mental meliputi suatu keadaan dan taraf keterlibatan sosial yang diterima oleh orang lain dan memberikan kepuasan bagi orang yang bersangkutan.
Beberapa rumusan diatas menekankan normalitas sebagai keadaan sehat, yang secara umum ditandai dengan keefektifitan dalam menyesuaikan diri, yakni menjalankan tuntutan hidup sehari-hari, sehingga menimbulkan perasaan puas dan bahagia.


TEORI

          Dalam perilaku, normal adalah istilah yang dikenal untuk setiap makhluk hidup bahwa tidak ada perbedaan signifikan dengan kelompoknya, meskipun dalam derajat yang bervariasi, setiap hidup yang memiliki perbedaan apapun biasanya tidak diperhitungkan, dimana penggunaan kata yang normal hanya bisa subjektif.        
Menurut Maramis (1999), normal adalah keadaan sehat dalam hal fungsi keseluruhan. Sedangkan abnormal adalah menyimpang dari yang normal.
          Perilaku normal adalah perilaku yang serasi dan tepat yang dapat diterima oleh masyarakat pada umumnya. Perilaku abnormal adalah suatu perilaku yang berbeda, tidak mengikuti peraturan yang berlaku, tidak pantas, mengganggu dan tidak dapat dimengerti melalui kriteria yang biasa.
Pendekatan normal dan abnormal menurut Profesor Suprapti Sumarno (1976):
a)    Pendekatan Kuantitatif, didasarkan atas patokan statistik dengan melihat pada sering atau tidaknya sesuatu terjadi dan berdasarkan perhitungan maupun pikiran awam.
b)    Pendekatan Kualitatif, didasarkan pada obsevasi empirik pada tipe-tipe ideal dan terikat pada faktor sosial kultural setempat.

Kriteria Abnormalitas
1.     Penyimpangan dari norma-norma statistik
Menurut patokan ini, yang disebut abnorml adalah setiap hal yang luar biasa, tidak lazim, atau secara harfiah yang menyimpang dari norma. Kriteria ini cocok diterapkan untuk sifat-sifat kepribadian tertentu seperti sifat agresif, sebaliknya kriteria ini tidak cocok untuk sifat-sifat kepribadian lain, seperti intelegensi.
2.     Penyimpangan dari norma-norma sosial
Menurut kriteria ini, abnormal diartikan sebagai nonkonformitas, yaitu sifat tidak patuh atau tidak sejalan dengan norma sosial.inilah yang disebut relativisme budaya: apa saja yang umum atau lazim adalah normal.
3.     Gejala “Salah Suau” (Maladjustment)
Abnormalitas dipandang sebagai ketidakefektifan individu dalam menghadapi, menanggapi atau melaksanakan tuntutan-tuntutan dari lingkungan fisik dan sosialnya maupun yang bersumber dari berbagai kebutuhannya sendiri. Kriteria ini dapat bersifat negatif, dalam arti tidak memperhitungkan fakta bahwa seorang individu dapat berpenyesuaian baik (well-adjusted) tanpa memanfaatkan dan memperkembangkan kemampuan-kemampuannya.
4.     Tekanan Batin
Abnormalitas dipandang berwujud perasaan-perasaan cemas, depresi, atau sedih, atau rasa bersalah yang mendalam. Namun, ini bukan patokan yang baik untuk membedakan perilaku normal dari yang abnormal atau sebaliknya.
5.     Ketidakmatangan
Seseorang disebut abnormal bila perilakunya tidak sesuai dengan tingkat usianya, tidak selaras dengan situasinya.
          Coleman, Butcher dan Carson (1980) dengan tetap menyadari kekurangannya, akhirnya hanya menggunakan dua kriteria, yaitu abnormalitas sebagai penyimpangan dari norma-norma masyarakat dan abnormalitas dalam arti apa saja yang bersifat maladaptif.

Istilah tentang Perilaku Abnormal
          Menurut Coleman, Butcher & Carson (1980):
a)    Perilaku Abnormal
Istilah ini memiliki arti yang bermacam-macam. Terkadang dipakai untuk menunjuk aspek batiniah kepribadian, aspek yang dapat langsung diamati, perilaku spesifik tertentu seperti fobia atau skizofrenia.
b)    Perilaku Maladaptif
Istilah ini memiliki arti luas meliputi setiap perilaku yang mempunyai dampak merugikan bagi individu atau masyarakat, tidak hanya mencakup gangguan seperti neurosis dan psikosis yang bermacam-macam jenisnya, melainkan juga berbagai bentuk perilaku baik perorangan maupun kelompok.
c)    Gangguan Mental
Istilah ini menunjuk pada semua bentuk perilaku abnormal, mulai dari yang ringan sampai yang melumpuhkan.
d)    Psikopatologi
Istilah ini sebenarnya berarti kajian tentang perilaku abnormal atau gangguan mental, namun sering juga dipakai sebagai istilah lain bagi kedua istilah tersebut.

e)    Penyakit Jiwa
Dulu istilah ini diartikan sama dengan gangguan mental. Kini dipersempit hanya mencakup gangguan-gangguan yang melibatkan patologi otak atau berupa disorganisasi kepribadian yang parah.
f)     Gangguan Perilaku
Istilah ini menunjuk gangguan-gangguan yang disebabkan oleh proses belajar yang tidak semestinya.
g)    Penyakit Mental
Dulu istilah ini menunjuk gangguan-gangguan yang berkaitan dengan patologi otak. Kini, jarang dipakai.
h)    Ketidakwarasan
Istilah ini menunjuk pada gangguan mental yang serius.


ANALISIS

Contoh Kasus:
          Landa berusia 25 tahun telah menjalani hubungan perkawinan selama hampir 2 tahun. Landa selalu merasa ketakutan dan kekhawatiran yang mendalam bila bersama suaminya. Hal ini tidak terlalu dirasakannya ketika ia bersama orang lain. Suami subjek merupakan figur suami yang otoriter dan overprotektif. Subjek selalu merasa disalahkan atas setiap hal yang dilakukannya. Subjek merasa tidak berani memberikan pendapat kepada suaminya. Subjek merasa tidak bahagia dengan kehidupan perkawinannya tersebut dan berniat untuk segera bercerai dengannya tetapi subjek tidak mempunyai keberanian untuk melakukannya.



Pembahasan:
          Dari contoh kasus diatas kita dapat mengidentifikasikan bahwa Landa termasuk dalam perilaku abnormal, sebab Landa selalu merasa ketakutan dan kekhawatiran yang berlebihan atau mendalam terhadap suaminya, tetapi tidak terlalu dirasakannya dengan orang lain. Dalam hal ini permasalahan yang dihadapi oleh Landa masuk pada kriteria abnormalitas yaitu tekanan batin yang telah dipaparkan sebelumnya. Subjek merasa tertekan dengan suami yang mempunyai sikap otoriter dan overprotektif, sehingga membuat subjek tidak berani untuk mengungkapkan pendapatnya, subjek selalu merasa apa yang ia lakukan selalu salah. Hal ini jelas tidak tepat, karena seharusnya subjek harus berani untuk memberikan pendapat terlebih pada suaminya sendiri karena pada dasarnya setiap pendapat yang kita sampaikan tidak ada yang salah. Selain itu kriteria yang berikutnya yaitu Gejala “salah suai” (maladjusment) yang disebabkan oleh ketidakefektifan individu dalam menghadapi, menangani atau melaksanakan tuntutan dari lingkungan fisik. Ketidakefektifan individu dalam menghadapi dan menangani suaminya yang bersikap otoriter dan overprotektif. Sehingga subjek merasa tidak bahagia dalam kehidupan perkawinannya dan berniat untuk segera bercerai. Dalam hal ini, seharusnya subjek dapat lebih menyesuaikan diri dengan sikap suaminya yang otoriter dan overprotektif karena sebelum menikah subjek seharusnya dapat melihat atau mengetahui mengenai sikap suaminya walaupun tidak banyak dan subjek tau apa yang akan dilakukannya setelah menikah dengan sikap suaminya tersebut, sehingga dapat menghadapi ataupun menangani masalah yang terjadi dalam perkawinannya.

DAFTAR PUSTAKA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar