Senin, 28 Maret 2016

Teori Kepribadian Sehat menurut sudut pandang aliran Psikoanalisis, Behavioristik, Humanistik #

Nama: Intan Yuliawati
Kelas: 2PA07
NPM: 15514389
Mata Kuliah: Kesehatan Mental#

I. Pendahuluan

       Kepribadian adalah kata yang umum dipakai di dunia Psikologi, kepribadian seseorang bisa dinilai dari kemampuannya memperoleh reaksi-reaksi dari berbagai orang dalam berbagai keadaan.
     Sehat merupakan bagian dari harta manusia yang tak ternilai harganya. Sehat merupakan anugerah dari Sang Maha Pencipta untuk makhluk hidup melakukan perbuatan mulia sehingga sehat dapat di pandang indah untuk selalu disandang oleh individu yang sadar akan hal tersebut.
    Menurut aliran humanistik kepribadian yang sehat, individu dituntut untuk mengembangkan potensi yang terdapat didalam dirinya sendiri. Bukan saja mengandalkan pengalaman-pengalaman yang terbentuk pada masa lalu dan memberikan diri untuk belajar mengenai suatu pola mengenai yang baik dan benar sehingga menghasilkan respon individu yang bersifat pasif.
      Pandangan psikoanalisa, hanya memberi kepada kita sisi yang sakit atau kurang, ‘sisi yang pincang’ dari kodrat manusia, karna hanya berpusat pada tingkah laku yang neuritis dan psikotis.
 Dalam pandangan behavioris, individu digambarkan sebagai suatu organisme yang bersifat baik, teratur, dan ditentukan sebelumnya, dengan banyak spontanitas, kegembiraan hidup, berkreativitas, seperti alat pengatur panas.

II. Teori

a. Teori Kepribadian Sehat menurut aliran Psikoanalisa
   Psikoanalisis merupakan suatu bentuk model kepribadian. Teori ini sendiri pertama kali diperkenalkan oleh Sigmund Freud (1856-1938). Teori Psikologi Freud didasari pada keyakinan bahwa dalam diri manusia terdapat suatu energi psikis yang sangat dinamis yaitu Id, Ego dan Super Ego. Id merupakan bagian paling primitif dalam kepribadian. Ego merupakan bagian “eksekutif” dari kepribadian, ia berfungsi secara rasional berdasakan prinsip kenyataan, berusaha memenuhi kebutuhan Id secara realistis, yaitu dimana Ego berfungsi untuk menyaring dorongan-dorongan yang ingin dipuaskan oleh Id berdasarkan kenyataan. Super Ego merupakan gambaran internalisasi nilai moral masyarakat yang diajarkan orang tua dan lingkungan seseorang, Super Ego merupakan hati nurani seseorang dimana berfungsi sebagai penilai apakah sesuatu itu benar atau salah. Karena itu Super Ego berorientasi pada kesempurnaan.
       Dalam Teori Psikoanalisa, freud mengemukakan bahwa manusia itu di pengaruhi dan dimotivasi oleh dorongan alam sadar dan alam tidak sadar serta alam bawah sadar.
Tingkat-tingkat kesadaran pada manusia:
1). Tingkat sadar atau kesadaran (conscious level), pada tingkat ini aktivitas mental dapat disadari setiap saat seperti berpikir, persepsi, dan lain-lain.
2). Tingkat prasadar (preconscious level), pada tingkat ini aktivitas mental dan gejala-gejala psikis yang timbul bisa disadari hanya apabila individu memperhatikannya, misalnya memori, pengetahuan-pengetahuan yang telah dipelajari, dan lain-lain.
3). Tingkat tidak disadari (unconscious level), pada tingkat ini aktivitas mental dan gejala-gejala psikis tidak disadari oleh individu. Gejala-gejala ini muncul misalnya dalam dorongan-dorongan immoral, pengalaman-pengalaman yang memalukan, harapan-harapan yang irasional, dorongan-dorongan seksual yang tidak sesuai dengan norma masyarakat, dan lain-lain.

Kepribadian yang sehat menurut psikoanalisis:
1. Menurut freud kepribadian yang sehat yaitu jika individu bergerak menurut pola perkembangan yang ilmiah
2. Kemampuan dalam mengatasi tekanan dan kecemasan, dengan belajar
3. Mental yang sehat ialah seimbangnya fungsi dari superego terhadap id dan ego
4. Tidak mengalami gangguan dan penyimpangan pada mentalnya
5. Dapat menyesuaikan keadaan dengan berbagai dorongan dan keinginan

b. Teori Kepribadian Sehat menurut aliran Behavioristik
   Behaviorisme juga disebut psikologi S – R (stimulus dan respon). Teori behavioristik adalah proses belajar serta peranan lingkungan yang merupakan kondisi langsung belajar dalam menjelaskan perilaku dan semua bentuk tingkah laku manusia. Teori Behaviorisme pertama kali diperkenalkan oleh John B. Watson (1879-1958).
      Behaviorisme secara keras menolak unsur-unsur kesadaran yang tidak nyata sebagai obyek studi dari psikologi, dan membatasi diri pada studi tentang perilaku yang nyata. Dengan demikian, Behaviorisme tidak setuju dengan penguraian jiwa ke dalam elemen seperti yang dipercayai oleh strukturalisme. Berarti juga behaviorisme sudah melangkah lebih jauh dari fungsionalisme yang masih mengakui adanya jiwa dan masih memfokuskan diri pada proses-proses mental.
     Behaviorisme ingin menganalisis bahwa perilaku yang tampak saja yang dapat diukur, dilukiskan, dan diramalkan. Behaviorisme memandang pula bahwa ketika dilahirkan, pada dasarnya manusia tidak membawa bakat apa-apa. Manusia akan berkembang berdasarkan stimulus yang diterimanya dari lingkungan sekitarnya. Lingkungan yang buruk akan menghasilkan manusia buruk, lingkungan yang baik akan menghasilkan manusia baik.

Aliran behaviorisme mempunyai 3 ciri penting:
1. Menekankan pada respon-respon yang dikondisikan sebagai elemen dari perilaku
2. Menekankan pada perilaku yang dipelajari dari pada perilaku yang tidak dipelajari. Behaviorisme menolak kecenderungan pada perilaku yang bersifat bawaan.
3. Memfokuskan pada perilaku binatang. Menurutnya, tidak ada perbedaan alami antara perilaku manusia dan perilaku binatang.


c. Teori Kepribadian Sehat menurut aliran Humanistik
       Humanistik mulai muncul sebagai sebuah gerakan besar psikologi dalam tahun 1950-an. Aliran humanistik merupakan konstribusi dari psikolog-psikolog terkenal seperti Gordon Allport, Abraham Maslow dan Carl Rogers. Menurut aliran humanistik kepribadian yang sehat, individu dituntut untuk mengembangkan potensi yang terdapat didalam dirinya sendiri. Bukan saja mengandalkan pengalaman-pengalaman yang terbentuk pada masa lalu dan memberikan diri untuk belajar mengenai suatu pola mengenai yang baik dan benar sehingga menghasilkan respon individu yang bersifat pasif.
       Menurut Abraham Maslow Orang yang sehat secara Psikologis adalah orang yang terpenuhi akan kebutuhan-kebutuhan dibawah ini, yaitu:
1) Kebutuhan-kebutuhan fisiologis (the physiological needs)
2) Kebutuhan-kebutuhan rasa aman (the safety needs / the security needs)
3) Kebutuhan rasa cinta dan memiliki (the love and belongingness needs)
4) Kebutuhan akan penghargaan diri (the self-esteem needs)
5) Kebutuhan akan aktualisasi diri (the self-actualization needs)

Kepribadian Sehat menurut pendapat:

1. Allport (Ciri-ciri Kepribadian yang Matang)
     Pandangan-pandangan pribadi dan profesional dari Allport berbeda dengan pandangan-pandangan Freud. Gambaran kodrat manusia yang diutarakan Allport adalah positif, penuh harapan, dan menyanjung-nyanjung. Allport percaya bahwa kekuatan-kekuatan tak sadar itu merupakan pengaruh-pengaruh yang penting pada tingkah laku orang-orang dewasa yang neurotis. Akan tetapi individu-individu yang sehat yang berfungsi pada tingkat rasional dan sadar menyadari sepenuhnya kekuatan-kekuatan yang membimbing mereka dapat mengontrol kekuatan-kekuatan itu juga.

Kriteria Kepribadian yang Matang
  Tujuh kriteria kematangan ini mencakup pandangan-pandangan Allport tentang sifat-sifat khusus dari kepribadian sehat, diantaranya yaitu:
1. Perluasan Perasaan Diri
2. Hubungan Diri yang Hangat dengan Orang-Orang Lain
3. Keamanan Emosional
4. Persepsi Realistis
5. Keterampilan-Keterampilan dan Tugas-Tugas
6. Pemahaman Diri
7. Filsafat Hidup yang Mempersatukan

2. Rogers ( Perkembangan Kepribadian)
    Rogers bekerja dengan individu-individu yang terganggu yang mencari bantuan untuk mengubah kepribadian mereka. Untuk merawat pasien-pasien ini (dia lebih suka menyebut mereka “klien”), Rogers mengembangkan suatu metode yang menempatkan tanggung jawab utama.

Motivasi orang yang sehat:
1. Aktualisasi Rogers menempatkan suatu dorongan “satu kebutuhan yang fundamental” dalam sistemnya tentang kepribadian, yaitu memeliharakan, mengaktualisasikan, dan meningkatkan semua segi individu.
2. Perkembangan Diri Ketika diri mulai berkembang, anak belajar membutuhkan cinta. Rogers menyebut ini “penghargaan positif” (positive regards). Dari sinilah nanti self concept pada anak akan tumbuh. Jika penghargaan positif itu diberikan dengan seimbang makan self concept yang akan berkembang akan menjadi suatu self concept yang baik. Dalam perjalanannya anak juga akan mengerti bagaimana itu penghargaan positif yang bersyarat (conditional positive regards) dimana ia akan menghadapi situasi ketika kebutuhan akan positive regards bertambah kuat, semakin lama makin mengerahkan energi dan pikiran. Anak harus bekerja keras untuk positive regards dengan mengorbankan aktualisasi diri. Sedangkan syarat utama bagi timbulnya kepribadian yang sehat adalah penerimaan “penghargaan positif tanpa syarat” (unconditional positive regards) di masa kecil. Sehingga, untuk dapat memiliki kepribadian yang sehat juga mental yang sehat, seseorang harus mencapai penerimaan “penghargaan positif tanpa syarat” tersebut.
3. Orang yang Berfungsi Sepenuhnya Orang yang berfungsi sepenuhnya yaitu, orang atau manusia yang dapat menjalankan tugas, peran, dan fungsinya dengan baik. Sehingga orang tersebut dapat mencapai kesehatan mental yang utuh.
Rogers memberikan lima sifat orang yang berfungsi sepenuhnya, yaitu:
a. Keterbukaan pada Pengalaman
b. Kehidupan Eksistensial
c. Kepercayaan Terhadap Organisme Orang Sendiri
d. Perasaan Bebas
e. Kreativitas

3. Maslow (Hirarki Kebutuhan Manusia Mencapai Tingkat Aktualisasi Diri)
    Prasyarat untuk mencapai aktualisasi diri ialah memuaskan empat kebutuhan yang berada dalam tingkat yang lebih rendah, yaitu:
a. Kebutuhan-kebutuhan fisiologis
b. Kebutuhan-kebutuhan akan rasa aman
c. Kebutuhan akan memiliki dan cinta
d. Kebutuhan akan penghargaan.
     Dari urutan satu sampai dengan urutan lima yaitu aktualisasi diri. Harus berjalan berkesinambungan, ketika kebutuhan yang paling dasar telah terpenuhi akan berlanjut ke tingkat kebutuhan selanjutnya. Pada puncak aktualisasi diri inilah kesehatan mental dapat tercapai pula.

4. Erich Fromm (Ciri-Ciri Kepribadian yang Sehat)
Dorongan kepribadian yang sehat:
   Fromm mengemukakan lima kebutuhan yang berasal dari dikotomi kebebasan dan keamanan
a. Hubungan
   Ada beberapa cara menemukan hubungan yaitu destruktif (tidak sehat) dan konstruktif (sehat). Sedangkan cara yang sehat untuk berhubungan dengan dunia ialah melalui cinta. Cinta memuaskan kebutuhan akan keamanan dan juga menimbulkan suatu perasaan integritas dan individualitas.
b. Transendensi
   Merupakan kebutuhan manusia untuk mengatasi atau melebih-lebihi peranan-peranan pasif sebagai ciptaan. Maksudnya yaitu dengan kematian, ketidakberdayaan, dan masih banyak hal lainnya yang menjadi batasan manusia. Manusia didorong untuk menjadi lebih berkembang dan dalam keadaan tercipta menjadi pencipta, pembentuk yang aktif dari kehidupannya sendiri.
c. Berakar
  Berakar disini adalah maksudnya yaitu ikatan. Pada dasarnya manusia diciptakan untuk menjalin ikatan-ikatan yang kuat dalam tali persaudaraan.
d. Perasaan Identitas
  Setiap individu membutuhkan suatu perasaan identitas sebagai individu yang unik, suatu identitas yang menempatkannya terpisah dari orang lain dalam hal perasaannya tentang dia, siapa, dan apa.
e. Kerangka Orientasi
  Bertalian dengan pencarian suatu perasaan diri yang unik ialah suatu pencarian frame of reference atau konteks dengan mana seseorang menginterpretasikan semua gejala dunia.

III. Analisis

Contoh Kasus:
  Fiona adalah mahasiswi baru di sebuah Universitas. Dia bertemu dengan teman-teman barunya. Fiona cenderung menghindari mereka karena merasa takut dengan orang-orang baru. Temannya mencoba untuk mendekatinya dengan meminta nomor hp, mengajak makan bersama di kantin tetapi Fiona selalu menolaknya. Bahkan ketika Fiona bersama- teman baru, dan hendak pergi ke toilet, salah satu temannya menawarkan diri untuk membawakan dan menjaga tasnya namun tetap ia tolak. Semasa ospek, Fiona dikenal sebagai orang yang kaku dan anti sosial.

Pembahasan:
    Menurut Maslow, kebutuhan ini menampilkan diri dalam kategori kebutuhan akan kemantapan, perlindungan, kebebasan dari rasa takut, cemas dan kekalutan; kebutuhan akan struktur, ketertiban, hukum, batas-batas, dan sebagainya. Kebutuhan ini dapat kita amati pada seorang anak. Biasanya seorang anak membutuhkan suatu dunia atau lingkungan yang dapat diramalkan. Seorang anak menyukai konsistensi dan kerutinan sampai batas-batas tertentu. Jika hal-hal itu tidak ditemukan maka ia akan menjadi cemas dan merasa tidak aman. Orang yang merasa tidak aman memiliki kebutuhan akan keteraturan dan stabilitas serta akan berusaha keras menghindari hal-hal yang bersifat asing dan tidak diharapkan.

IV. Daftar Pustaka

Basuki, Heru. (2008). Psikologi Umum. Jakarta: Universitas Gunadarma

https://core.ac.uk/download/files/379/11737005.pdf
diakses pada tanggal 28 Maret 2016

G. Globe, Frank. Mazhab Ketiga : Psikologi Humanistik Abraham Maslow. Yogyakarta: Penerbit Kanisius

Kamis, 17 Maret 2016

Konsep Normal-Abnormal dalam Masyarakat


Nama: Intan Yuliawati
Kelas: 2PA07
NPM: 15514389
Mata Kuliah: Kesehatan Mental #


PENDAHULUAN

        Perilaku abnormal adalah bagian dari kenyataan yang kita hadapi dalam kehidupan ini. Baik disadari ataupun tidak, perilaku abnormal banyak terjadi di sekitar kita. Ia dapat berbentuk perilaku-perilaku yang jarang dilakukan, tidak sesuai dengan norma, menyebabkan stress pribadi, tidak diharapkan dan disfungsi perilaku. Sayangnya, masyarakat masih kurang memahami perilaku abnormal tersebut, sehingga perilaku-perilaku abnormal yang ada sering dipahami secara keliru.
          Tidak mudah merumuskan apa yang dimaksut dengan normal dan abnormal tentang perilaku, karena dalam banyak kasus tidak ada batas yang tegas antara perilaku normal dan abnormal. Dalam arti, orang yang secara umum dipandang normal pun suatu saat dapat melakukan perbuatan yang tergolong abnormal, mungkin diluar kesadarannya. Sebaliknya, tidak jarang orang yang secara umum jelas-jelas abnormal melakukan perbuatan atau mengucapkan kata-kata yang sungguh-sungguh normal.
Secara konseptual, keadaan normal-sehat dapat dirumuskan sebagai berikut (dalam Winkel, 1991, h. 674-675):
1.     WHO mengatakan bahwa sehat itu adalah suatu keadaan berupa kesejahteraan fisik, mental, dan sosial secara penuh dan bukan semata-mata berupa absennya penyakit atau keadaan lemah tertentu.
2.     Karl Manninger (psikiater) mengatakan kesehatan mental adalah penyesuaian manusia terhadap dunia dan satu sama lain dengan keefektifan dan kebahagiaan yang maksimum.
3.     H.B English (psikolog) kesehatan mental adalah keadaan yang relatif tetap dimana sang pribadi menunjukan penyesuaian atau mengalami aktualisasi diri atau realisasi diri, ini merupakan keadaan positif.
4.     W.W. Boehm (pekerja sosial) kesehatan mental meliputi suatu keadaan dan taraf keterlibatan sosial yang diterima oleh orang lain dan memberikan kepuasan bagi orang yang bersangkutan.
Beberapa rumusan diatas menekankan normalitas sebagai keadaan sehat, yang secara umum ditandai dengan keefektifitan dalam menyesuaikan diri, yakni menjalankan tuntutan hidup sehari-hari, sehingga menimbulkan perasaan puas dan bahagia.


TEORI

          Dalam perilaku, normal adalah istilah yang dikenal untuk setiap makhluk hidup bahwa tidak ada perbedaan signifikan dengan kelompoknya, meskipun dalam derajat yang bervariasi, setiap hidup yang memiliki perbedaan apapun biasanya tidak diperhitungkan, dimana penggunaan kata yang normal hanya bisa subjektif.        
Menurut Maramis (1999), normal adalah keadaan sehat dalam hal fungsi keseluruhan. Sedangkan abnormal adalah menyimpang dari yang normal.
          Perilaku normal adalah perilaku yang serasi dan tepat yang dapat diterima oleh masyarakat pada umumnya. Perilaku abnormal adalah suatu perilaku yang berbeda, tidak mengikuti peraturan yang berlaku, tidak pantas, mengganggu dan tidak dapat dimengerti melalui kriteria yang biasa.
Pendekatan normal dan abnormal menurut Profesor Suprapti Sumarno (1976):
a)    Pendekatan Kuantitatif, didasarkan atas patokan statistik dengan melihat pada sering atau tidaknya sesuatu terjadi dan berdasarkan perhitungan maupun pikiran awam.
b)    Pendekatan Kualitatif, didasarkan pada obsevasi empirik pada tipe-tipe ideal dan terikat pada faktor sosial kultural setempat.

Kriteria Abnormalitas
1.     Penyimpangan dari norma-norma statistik
Menurut patokan ini, yang disebut abnorml adalah setiap hal yang luar biasa, tidak lazim, atau secara harfiah yang menyimpang dari norma. Kriteria ini cocok diterapkan untuk sifat-sifat kepribadian tertentu seperti sifat agresif, sebaliknya kriteria ini tidak cocok untuk sifat-sifat kepribadian lain, seperti intelegensi.
2.     Penyimpangan dari norma-norma sosial
Menurut kriteria ini, abnormal diartikan sebagai nonkonformitas, yaitu sifat tidak patuh atau tidak sejalan dengan norma sosial.inilah yang disebut relativisme budaya: apa saja yang umum atau lazim adalah normal.
3.     Gejala “Salah Suau” (Maladjustment)
Abnormalitas dipandang sebagai ketidakefektifan individu dalam menghadapi, menanggapi atau melaksanakan tuntutan-tuntutan dari lingkungan fisik dan sosialnya maupun yang bersumber dari berbagai kebutuhannya sendiri. Kriteria ini dapat bersifat negatif, dalam arti tidak memperhitungkan fakta bahwa seorang individu dapat berpenyesuaian baik (well-adjusted) tanpa memanfaatkan dan memperkembangkan kemampuan-kemampuannya.
4.     Tekanan Batin
Abnormalitas dipandang berwujud perasaan-perasaan cemas, depresi, atau sedih, atau rasa bersalah yang mendalam. Namun, ini bukan patokan yang baik untuk membedakan perilaku normal dari yang abnormal atau sebaliknya.
5.     Ketidakmatangan
Seseorang disebut abnormal bila perilakunya tidak sesuai dengan tingkat usianya, tidak selaras dengan situasinya.
          Coleman, Butcher dan Carson (1980) dengan tetap menyadari kekurangannya, akhirnya hanya menggunakan dua kriteria, yaitu abnormalitas sebagai penyimpangan dari norma-norma masyarakat dan abnormalitas dalam arti apa saja yang bersifat maladaptif.

Istilah tentang Perilaku Abnormal
          Menurut Coleman, Butcher & Carson (1980):
a)    Perilaku Abnormal
Istilah ini memiliki arti yang bermacam-macam. Terkadang dipakai untuk menunjuk aspek batiniah kepribadian, aspek yang dapat langsung diamati, perilaku spesifik tertentu seperti fobia atau skizofrenia.
b)    Perilaku Maladaptif
Istilah ini memiliki arti luas meliputi setiap perilaku yang mempunyai dampak merugikan bagi individu atau masyarakat, tidak hanya mencakup gangguan seperti neurosis dan psikosis yang bermacam-macam jenisnya, melainkan juga berbagai bentuk perilaku baik perorangan maupun kelompok.
c)    Gangguan Mental
Istilah ini menunjuk pada semua bentuk perilaku abnormal, mulai dari yang ringan sampai yang melumpuhkan.
d)    Psikopatologi
Istilah ini sebenarnya berarti kajian tentang perilaku abnormal atau gangguan mental, namun sering juga dipakai sebagai istilah lain bagi kedua istilah tersebut.

e)    Penyakit Jiwa
Dulu istilah ini diartikan sama dengan gangguan mental. Kini dipersempit hanya mencakup gangguan-gangguan yang melibatkan patologi otak atau berupa disorganisasi kepribadian yang parah.
f)     Gangguan Perilaku
Istilah ini menunjuk gangguan-gangguan yang disebabkan oleh proses belajar yang tidak semestinya.
g)    Penyakit Mental
Dulu istilah ini menunjuk gangguan-gangguan yang berkaitan dengan patologi otak. Kini, jarang dipakai.
h)    Ketidakwarasan
Istilah ini menunjuk pada gangguan mental yang serius.


ANALISIS

Contoh Kasus:
          Landa berusia 25 tahun telah menjalani hubungan perkawinan selama hampir 2 tahun. Landa selalu merasa ketakutan dan kekhawatiran yang mendalam bila bersama suaminya. Hal ini tidak terlalu dirasakannya ketika ia bersama orang lain. Suami subjek merupakan figur suami yang otoriter dan overprotektif. Subjek selalu merasa disalahkan atas setiap hal yang dilakukannya. Subjek merasa tidak berani memberikan pendapat kepada suaminya. Subjek merasa tidak bahagia dengan kehidupan perkawinannya tersebut dan berniat untuk segera bercerai dengannya tetapi subjek tidak mempunyai keberanian untuk melakukannya.



Pembahasan:
          Dari contoh kasus diatas kita dapat mengidentifikasikan bahwa Landa termasuk dalam perilaku abnormal, sebab Landa selalu merasa ketakutan dan kekhawatiran yang berlebihan atau mendalam terhadap suaminya, tetapi tidak terlalu dirasakannya dengan orang lain. Dalam hal ini permasalahan yang dihadapi oleh Landa masuk pada kriteria abnormalitas yaitu tekanan batin yang telah dipaparkan sebelumnya. Subjek merasa tertekan dengan suami yang mempunyai sikap otoriter dan overprotektif, sehingga membuat subjek tidak berani untuk mengungkapkan pendapatnya, subjek selalu merasa apa yang ia lakukan selalu salah. Hal ini jelas tidak tepat, karena seharusnya subjek harus berani untuk memberikan pendapat terlebih pada suaminya sendiri karena pada dasarnya setiap pendapat yang kita sampaikan tidak ada yang salah. Selain itu kriteria yang berikutnya yaitu Gejala “salah suai” (maladjusment) yang disebabkan oleh ketidakefektifan individu dalam menghadapi, menangani atau melaksanakan tuntutan dari lingkungan fisik. Ketidakefektifan individu dalam menghadapi dan menangani suaminya yang bersikap otoriter dan overprotektif. Sehingga subjek merasa tidak bahagia dalam kehidupan perkawinannya dan berniat untuk segera bercerai. Dalam hal ini, seharusnya subjek dapat lebih menyesuaikan diri dengan sikap suaminya yang otoriter dan overprotektif karena sebelum menikah subjek seharusnya dapat melihat atau mengetahui mengenai sikap suaminya walaupun tidak banyak dan subjek tau apa yang akan dilakukannya setelah menikah dengan sikap suaminya tersebut, sehingga dapat menghadapi ataupun menangani masalah yang terjadi dalam perkawinannya.

DAFTAR PUSTAKA

Minggu, 13 Maret 2016