Kamis, 27 November 2014

Puisi

Judul: Bencana


Tuhan.....
Marahkah kau kepada kami
Sungguh deras curah murkamu
kau berikan kami 1001 bencana
Bagai ditumpahkan dari langit

Disini banjir, disana tsunami
Disitu longsor juga gempa
Mungkin ini memang salah kami
Menebang pohon, membakar hutan
Maafkanlah kami ya Robbi

Puisi

Judul: Sesal


Seraut wajah tua
Dihiasi kerut keriput
Helaian rambut putih
Menguntai senyum tertahan

Dikala ada......
Ku tak pernah mendengar kata-katamu
Ku tak pernah menghiraukan nasehatmu
Ku tak pernah melaksanakan perintahmu

Kini.....

Kau telah tiada
Dadaku terasa sesak
Hatiku terasa hancur
Tubuhku terasa rapuh

Kini.....

Baru ku sadar
Betapa mulianya kasihmu
Betapa berharganya dirimu
Sampai detik terakhir

Senin, 24 November 2014

Cerita Pendek

Sahabat Terbaikku

Waktu itu aku baru masuk kelas 2 SMP, entah mengapa mataku langsung tertuju kepada seorang perempuan. Aku ingin sekali berteman dengannya. Kami pun berkenalan dan akhirnya berteman. Seiring berjalannya waktu kami semakin dekat sampai pada suatu saat kami memutuskan untuk bersahabat.
 Kami selalu bercerita suatu hal dari yang penting sampai yang tidak penting, bermain, makan, jalan-jalan, menghabiskan waktu bersama, tertawa bersama bahkan sampai menangis bersama. Aku sangat menyayanginya, begitupun dia yang juga sangat menyayangiku.
Kami berdua sangat dekat, sampai hampir setiap hari selalu bermain bersama dan menghabiskan waktu bersama. Orang tuaku sudah mengenalnya, begitu juga dengan orang tuanya yang sudah mengenalku.
            Waktu berjalan begitu cepat, sampai akhirnya kami beranjak ke SMA, pada saat SMA aku dan Annisa beda sekolah. Sejak saat itu kami berdua sama-sama sibuk, sangat sulit untuk bertemu, hampir tidak pernah bertemu dalam waktu yang lumayan lama, dan bahkan tidak saling berkabar satu sama lain.
            Sampai pada suatu hari aku mendapat kabar dari temanku bahwa Annisa kecelakaan. Pada saat itu aku benar-benar sedih, khawatir bercampur bingung karena Annisa tidak memberi kabar apapun kepadaku. Aku pun berinisiatif menelfon Annisa untuk menanyakan kabar dan menanyakan kenapa dia tidak memberi kabar apapun kepadaku.
            Setelah selesai menelfon, rasa khawatir dan sedihku sedikit berkurang karena ternyata keadaan Annisa baik-baik saja, hanya lebam sedikit dibagian pinggang. Dan aku merasa terharu, ternyata Annisa tidak memberi kabar apapun kepadaku karena dia takut aku khawatir dengan keadaannya.
Singkat cerita, beberapa bulan sebelum Ujian Nasional kami sudah mempunyai tujuan untuk masuk Universitas Negeri ternama dan jurusan yang sama yaitu jurusan Psikologi. Kami berdua berusaha sebisa mungkin untuk mendapat nilai bagus dan masuk universitas tersebut.
Ujian Nasional telah berlalu, 11 hari kemudian pengumuman Perguruan Tinggi Negeri telah diumumkan. Aku begitu cemas dan takut untuk melihat pengumuman tersebut, tetapi aku mencoba untuk memberanikan diri. Setelah aku melihat hasilnya ternyata aku tidak lulus Perguruan Tinggi Negeri, betapa sedihnya aku sampai aku menangis.
            Setelah itu aku memberitahu orang tuaku dan segera memberitahu Annisa sahabatku. “Dut, gue ga keterima di Perguruan Tinggi Negeri. Gue sedih banget. Lu keterima ga?” kataku. Annisa menjawab “Beneran? Gue keterima tan. Jangan sedih ya, masih ada seleksi bersama kok”. Akhirnya aku mendaftarkan diri untuk ikut seleksi bersama.
Pengumuman kelulusan pun tiba dan beberapa hari kemudian pengumuman seleksi bersama juga tiba. Dengan sangat takut dan tidak percaya diri aku melihat pengumuman tersebut dan ternyata untuk kedua kalinya aku tidak diterima di Perguruan Tinggi Negeri. Pada saat itu aku begitu sedih dan kecewa, tetapi aku juga harus bisa menerima hal itu.
            Dua bulan kemudian Annisa berangkat ke luar kota untuk menuntut ilmu. Aku berniat ingin bertemu untuk yang terakhir kalinya di Stasiun Senin, tetapi aku terlambat. Begitu aku sampai di Stasiun Senin, kereta yang ditumpangi Annisa sudah berangkat lima menit yang lalu.
Satu menit kemudian Annisa menelfonku, “Tan kereta gue udah jalan, baru banget jalan. Maaf ya gabisa nungguin lu.” “Serius udah jalan? Iya gapapa kok dut. Jaga diri baik-baik ya disana, kalo udah sampe kabarin gue ya!” kataku. Annisa menangis, begitu juga denganku.
Begitu menyesal dan sedihnya aku karena hanya beda 5 menit saja aku sudah tidak bisa bertemu Annisa untuk terakhir kalinya. Dari situ aku mulai menyadari bahwa waktu itu ternyata sangat berharga walau hanya 5 menit saja.
Belum lama Annisa diluar kota Annisa menderita sakit tipes dan harus dirawat dirumah sakit. Aku sangat khawatir dengan keadaan Annisa diluar kota yang juga jauh dari orang tuanya. Aku ingin sekali menyusul Annisa dan merawatnya disana tetapi aku tidak bisa pergi kesana karena aku sudah mulai masuk kuliah. Aku hanya bisa mendoakan Annisa dari jauh.
Setelah Annisa sembuh, 2 minggu kemudian Annisa pulang ke Jakarta. betapa senangnya aku mendengar kabar baik itu walaupun hanya beberapa hari saja Annisa di Jakarta.
Sesampainya Annisa di Jakarta, kami segera mengatur jadwal untuk bertemu. Kami pun akhirnya bertemu. Saat bertemu aku memeluk Annisa dengan erat karena aku benar-benar sangat merindukannya. Tetapi sayang sekali, aku hanya bisa bertemu sebentar dengannya karena memang banyak yang harus diurus Annisa dan Annisa harus segera berangkat ke luar kota.
Keesokan harinya Annisa berangkat keluar kota. Untuk kedua kalinya aku ditinggal Annisa pergi jauh untuk waktu yang lama. Tetapi kali ini aku tidak bisa mengantar Annisa karena aku harus kuliah.
Sejak saat itu aku tidak pernah bertemu Annisa sampai saat ini. Kami berkomunikasi hanya melalui handphone, itupun tidak setiap hari kami berkomunikasi. Bahkan aku hanya bisa melihat wajahnya difoto. Tetapi aku yakin Annisa pasti merindukanku seperti aku yang sangat merindukannya.

            
Inilah kisah aku dan sahabat terbaikku yang harus terpisah jarak demi menggapai cita-cita. Semoga Tuhan selalu menjaga Annisa diluar sana dan semoga Annisa bisa menggapai cita-citanya diluar sana. Amin.

Kamis, 20 November 2014

Resensi Novel tahun 1966

Nama Kelompok:
1. Adhi Ridho M : 10514215
2. Albert Ferdinand : 10514725
3. Intan Yuliawati : 15514389
4. Rifah Sultanandar : 19514340
5. Sujabat Kartiko Sidi : 1A514497

Resensi novel angkatan 1966 "ZIARAH"
Judul : “ZIARAH”
Pengarang : Iwan Simatupang
Angkatan : 1966
Penerbit : Djambatan
Tebal : 148 Halaman


Sinopsis

      Novel Ziarah karya Iwan Simatupang adalah novel yang menceritakan seorang pelukis terkenal seantero negeri yang dibuat terkapar tidak berdaya alias shock dan trauma setelah ditinggal mati istrinya yang sangat dia cintai. Istri yang dia kawini dalam perkawinan secara tiba-tiba. Suatu ketika pelukis mencoba bunuh diri karena ketenaran karya lukisnya yang memikat semua orang dijagat bumi ini mengakibatkan ia memiliki banyak uang dan membuat dia bingung. Karena kebingungannya ini sang pelukis berniat bunuh diri dari lantai hotel dan ketika terjun dia menimpa seorang gadis cantik. Dan tanpa diduga pula sang pelukis langsung mengadakan hubungan jasmani dengan si gadis diatas jalan raya. Hal ini membuat orang-orang histeris dan akhirnya seorang brigadier polisi membawa mereka ke kantor catatan sipil dan mengawinkan mereka.
      Hidup bahagia bersama sang istri membuat pelukis benar-benar kehilangan. Apalagi setelah dia tahu bahwa istrinya mati karena telah melihat ibu kandungnya ada bersama gerombolan nona-nona tua yang menyaksikan kebahagiaan mereka saat hidup dalam gubuk tepi laut. Pelukis pun langsung pergi kekantor sipil guna mengurusi penguburan istrinya tetapi tak ada tanggapan positif dari pengusaha penguburan.Itu terjadi karena pelukis tak tahu apa-apa tentang istrinya.Yang dia tahu hanyalah kecintaan pada istrinya. Sehingga mayat istrinya terkatung-katung karena tak memiliki surat penguburan yang syah. Pelukis pun menghilang ketika dicari walikota (merupakan walikota kedua dalam novel ini,dia adalah wakil walikota yang diangkat menjadi walikota setelah walikota pertama gantung diri karena tak bisa memecahkan masalah mengundang pelukis saat akan ada kunjungan tamu asing) yang ikut menghadiri penguburan istri pelukis.
      Sampai akhirnya pengusaha penguburan itu menyesali perbuatannya dan dengan keputusan walikota akhirnya mayat istri pelukis dikuburkan.Sampai penguburan usai pelukis tak kelihatan. Saat kembali ke gubuknya dia melihat wanita tua kecil. Tak tahu itu siapa,ternyata adalah ibu kandung dari si gadis. Bercerita panjang tentang masa lalunya yang suram dan sampai saat terakhir dia bertatapan dengan anaknya yang justru membuat delima bagi si anak. Lalu pergi sambil menagis. Dan sesaat kemudian pelukis ada dalam gubuknya,memandangi keadaan sekitar yang penuh karangan bunga, membakarnya sampai habis. Hingga tersisa beberapa yang ia bawa ke kuburan istrinya. Ia titipkan karangan bunga pada centeng perkuburan. Ziarah tanpa melihat makam istrinya.
     Setelah itu hidup pelukis semakin tak tentu arah.Ia seolah tak pernah percaya bahwa istrinya telah mati. Pagi harinya hanya digunakan untuk menunggu istrinya ditikungan entah tikungan mana dan malam harinya dituangkan arak keperutnya,memanggil Tuhannya,meneriakkan nama istrinya,menangis dan kemudian tertawa keras-keras.
      Hingga akhirnya datang opseter perkuburan yang meminta dia mengapur tembok perkuburan kotapraja yang sebelumnya telah berbekas pamplet-pamplet polisi bahwa dia dicari.
Pelukis menerima tawaran itu dan esoknya ia mulai bekerja mengapur tembok perkuburan kotapraja itu 5 jam berturut-turut tiap harinya, sedangkan opseter perkuburan mengintip dari rumah dinasnya. Pekerjaan baru pelukis ini membawa perubahan tingkah laku pelukis sehingga membuat seluruh negeri geger. Hingga walikota akan memberhentikan opseter perkuburan. Tetapi ketika mengantar surat pemberhentian kerja itu, walikota malah mati sendiri karena kata-kata opseter tentang proporsi. Sebelumnya juga pernah terjadi kekacauan dinegeri karena opseter pekuburan memakai rasionalisme dalam kerjanya dan hanya memberi instruksi kerja pada selembar kertas pada pegawainya.
      Setelah beberapa hari pelukis mengapur tembok perkuburan pada suatau hari dia bergegas pulang sebelum 5 jam berturut-turut. Opseter perkuburan heran kemudian mendatanginya dan ternyata pelukis ingin berhenti bekerja. Opseter kebingungan tetapi pelukis menjelaskan bahwa dia tahu maksud opseter memperkerjakannya. Bahwa selain untuk kepentingan opseter sendiri, Opseter ingin pelukis menziarahi istrinya yang sudah tiada itu. Keesokan harinya Opseter ditemukan gantung diri. Pekuburan geger, tetapi hanya sedikit sekali empati dari pegawai-pegawai pekuburan. Maklum mereka hanya mengenal Opseter lewat instruksi kerjanya saja tanpa pernah bertemu dan mengenalnya. Penguburan opseter berlangsung cepat. Setelah penguburan, pelukis bertemu Maha guru dari Opseter yang kemudian menceritakan riwayat Opseter.
       Diakhir cerita,pelukis akhirnya pergi ke balai kota melamar menjadi Opseter Pekuburan. Untuk Ziarah yang terus-menerus pada mayat-mayat manusia,pada mayat istrinya.


 Unsur Intrinsik Novel

a.Tema: Ziarah Kubur
b.     Penokohan:
-          Utama: Pelukis, Istri Pelukis, Opseter Perkuburan
-          Antagonis : Istri
-          Protagonis : Pelukis
-          Tritagonis : Opseter PekuburanMahaguru Opseter
-          Pembantu:Walikota,Wakil Walikota,maha guru Opseter, Ayah Opseter, orang Buta     profesional, kepala Negara, perdana menteri, Nona-nona tua, brigadier polisi, mandor dan pegawai pekuburan, kepala dinas pekerjaan umum, official, centeng pekuburan
c.      Alur : Alur dalam novel ini memang sedikit membingungkan pembaca.
Pengarang sengaja menggunakan alur “Flash Back”. Pembaca diajak untuk mengernyitkan dahi karena cerita diawal novel bukanlah awal cerita, melainkan awal cerita baru diceritakan dibagian berikut dalam novel. Alias pembaca diajak ke waktu sebelumnya oleh pengarang dengan sentuhan filsafat yang amat menarik dan berkesinambungan.
Ini jelas terlihat diawal novel saat disebutkan sang pelukis begitu kehilangan setelah ditinggal mati istrinya, tetapi dibagian belakang malah pembaca diajak untuk mengikuti kisah pertemuan pelukis dengan istri, kehidupan mereka yang mengundang banyak pesona, dan saat-saat terakhir istrinya mati. Bukan hanya pelukis dan istri saja saja tetapi pengarang juga mengajak pembaca untuk mengikuti kisah balik kehidupan opseter sebelum menjadi opseter.
Pengenalan pengenalan-pengenalan Tokoh-tokoh novel, baik pelukis, opseter dan juga istri opseter yang tersaji bukan hanya diawal novel.
-          Pemunculan konflik :Kematian istri pelukis,yang menjadi awal derita pelukis.
-          Konflik :Opseter pekuburan menyuruh pelukis untuk mengapur tembok luar komplek pekuburan.
-          Antiklimaks: Pelukis tahu tujuan sebenarnya opseter pekuburan memperkerjakannya
-          Peleraian : Mahaguru opseter menceritakan semua tentang riwayat opseter pekuburan.
d.     Sudut pandang: Orang ketiga (Dia,nya)
e.      Setting Tempat:
-          di tikungan : ”….disalah satu tikungan….(1)
-          Rumah kecil : ”…kekamar kecil.disatu rumah kecil….(1)
-          Di kakilima : ”…langkah-langkahnya dikakilima…(6)
-          Di kedai arak : ”sekencang-kencangnya ke kedai arak..(2)
-          Di pekuburan : ”..suasana pekuburan di tengah hari…(10)
-          Di rumah dinas opseter: ” ..jendela rumah dinasnya…(11)
-          Kantor dinas walikota: ”..sidang darurat badan pekerja harian.(12)
-          Di alun-alun kota : ”…orang-orang dialun-alun ikut….(19)
-          Diistana Negara : ”…kabinet kepada parlemen…(35)
-          Dilintasan lari : ”…bertulisan benar-benar :FINISH..(55)
-          Di hotel : ”..kamarnya ditingkat empat hotel itu (73)
-          Diaspal jalan raya : ”..yang sedang asyik diatas aspal panas(73)
-          Di kantor catatan sipil : ”..eh catatan sipil,supaya hal yang…(74)
-          Digubuk tepi pantai : ”..kegubuk yang masih utuh di pantai (89)
-          Rumah nyonya tua : ”..rumah kami dilalui serdadu serdadu(119)
-          LPAYLITK : “..lembaga pemeliharaan anak-anak yang
Lahir dari Ibu Yang Tidak Kawin…(120)
-          LPWTYS : ”.Lembaga Pemeliharaan Wanita-wanita
Tua Yang Sendiri..(122)
-          Tembok luar perkuburan: ”dia melompat turun dari tembok…(126)
-          Balai kota : ”…ke balai kota…(140)
f.       Waktu:
-      Pagi hari : ”… saya minum arak sepagi ini…(7)
       ….paginya dia selalu gembira…(1)
       ….esoknya pagi-pagi benar kepala…(30)
-      Tengah hari : ”…persis tengah hari mereka…(10)
       ….lepas sedikit tengah hari…(11)
-          Sore hari/senja : ”…menjelang benamnya matahari dia..(11)
…matahari segera akan tenggelam…(104)
-          Malam hari : ”…begitu malam jatuh perutnya…(1)
…persis jam 12 tadi malam…(31)
…kepanas makanan malamnya….(134)
g.     Suasana:
-          Gembira : ”..menggegar suatu tawa gempita..(15)
-          Sunyi : ”..sunyi senyap di pekuburan itu…(133)
-          Takut : ”..bukan sorak sorai!tapi teriakan…(55)
-          Ramai : ”..ketengah orang ramai itu……..(55)
-          Panic : ”Hadirin geger…..(55)
-          Kacau : ”mandor melihat opseter keluar rumah.(52)
-          Gelisah : ”..dia mulai gelisah.dia melihat…(89)
-          Hening : ”sesudah itu hening sehening-heningnya(3)
-          Sedih : ”.demi satu titik membasah dimatanya(123)
h.     Kepengarangan:
Iwan Martua Lokot Dongan Simatupang, atau biasa dipanggil Iwan Simatupang. Beliau dilahirkan di Sibolga 18 Januari 1928 dan meninggal di Jakarta 4 Agustus 1970. Sebelum menulis novel ini, beliau menulis beberapa novelnya yang terkenal, seperti Merahnya Merah yang mendapat hadiah nasional 1970 dan novel Ziarah itu sendiri dalam terjemahan Bahasa Inggris yang mendapat hadiah roman ASEAN terbaik tahun 1977.

Kelebihan:
          Ceritanya sangat menarik, sentuhan filsafat pengarang benar-benar tersaji dalam novel ini. Tak kurang dalam setiap bagian novel terdapat kalimat-kalimat yang merupakan ilmu filsafat. Ada beberapa bagian dalam novel yang bisa dikatakan sebagai penunjuk bahwa pengarang memiliki daya humor yang cukup tinggi. Dalam menghadirkan sebuah masalah pengarang tidak sungkan untuk mendramatisir, tapi endingnya juga sangat mengagumkan. Karena dengan penambahan cerita yang didramatisir itu justru semakin membuat semangat pembaca. Terdapat juga istilah-istilah
berbau filsafat yang diolah menjadi kesatuan kalimat yang benar-benar membawa pembaca ke arah pemikiran-pemikiran logis dan membenamkan pembaca dalam novel yang memiliki keindahan ilmu filsafat dari pengarang sendiri.

Kekurangan:

Dalam penulisan novel ini, pengarang masih tetap memakai bahasa
Indonesia walaupun banyak sekali ejaan-ejaan yang tak baku. Pembaca harus benar-benar mengerti maksud pengarang dulu sebelum dibuat tertawa membayangkan bahwa itu sangat lucu.

Kamis, 16 Oktober 2014

Manusia dan Kebudayaan



   Manusia dan Kebudayaan
    

    Manusia dan kebudayaan merupakan salah satu ikatan yang tidak  bisa dipisahkan dalam kehidupan ini. Manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna menciptakan kebudayaan mereka sendiri dan melestarikannya secara turun-menurun. Budaya tercipta dari kegiatan sehari-hari dan juga dari kejadian-kejadian yang sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa.
    
     Manusia di dunia ini memegang peranan yang unik dan dapat di pandang dalam beberapa segi. Misalnya, manusia di pandang sebagai kumpulan dari partikel-partikel atom yang membentuk jaringan-jaringan system (ilmu kimia). Manusia merupakan makhluk biologis yang tergolong dalam golongan mamalia (ilmu biologi). Manusia sebagai makhluk sosial yang tidak dapat berdiri sendiri (ilmu sosiologi) dan lain sebagainya.
    
      Kebudayaan berasal dari kata budaya yang berarti hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.
     
       Definisi Kebudyaan itu sendiri adalah sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam fikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Namun kebudayaan juga dapat kita nikmati dengan panca indera kita. Lagu, tari, dan bahasa merupakan salah satu bentuk kebudayaan yang dapat kita rasakan.

Sumber: http://sanusiadam79.wordpress.com/2013/03/14/manusia-dan-kebudayaan/

Contoh hubungan manusia dan kebudayaan:
  • Perubahan yang di lakukan masyarakat atau penduduk yang datang dari desa kekota. Masyarakat dari desa biasanya hanya meniru atau mengikuti budaya yang di lakukan masyarakat dari kota tanpa memikirkan sisi positif dan negatifnya, mereka hanya berfikir bahwa budaya kota itu lebih maju dan harus mereka jadikan contoh, akibatnya mereka terkadang terjebak akan hal-hal negatif yang mereka tidak ketahui sebelumnya.
  • Seorang anak belum lama membeli handphone baru, lalu beberapa bulan kemudian membeli handphone lagi keluaran yang paling terbaru hanya karena gengsi dan tidak mau ketinggalan zaman dengan teman-temannya.
  • Sebagian besar masyarakat Indonesia mengkonsumsi nasi sebagai asupan karbohidrat setiap hari adalah wajib hukumnya, jika tidak makan nasi walaupun sudah makan makanan sebanyak apapun rasanya seperti ada yang kurang, hal yang biasa dilakukan ini menjadikan makan nasi sebagai asupan karbohidrat adalah kebudayaan di Indonesia.
Sumber: http://bayusetiawan21.wordpress.com/2013/03/12/contoh-manusia-dan-kebudayaan-dalam-keseharian/

Kesimpulan:
       Pada dasarnya manusia dan kebudayaan itu saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan. Namun sayangnya kebudayaan itu ada yang positif dan negatif. Tetapi kembali ke diri manusianya itu sendiri lebih memilih kebudayaan yang positif atau negatif.